
Bagi dia yang telah kehilangan segalanya, satu-satunya alasan ia tetap hidup adalah untuk balas dendam.
Erielle adalah karakter orisinil yang dibuat oleh saya, sebagai penulisnya. Jika terdapat kesamaan dengan karya lain, maka itu murni karena ketidaksengajaan.
Penulis menggunakan Bahasa Indonesia serta Bahasa Inggris untuk plot dan interaksi. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penggunaan grammar.
Akun ini bertagar NSFW (terutama gore dan kekerasan) yang mungkin akan membuat pembaca merasa tidak nyaman. Dimohon kebijakannya dalam mengikuti akun ini.
Godmoding dan metagaming sangat dilarang, kecuali jika kita telah mendiskusikannya terlebih dahulu.
Untuk semua non-human rp-er, saya memperbolehkan untuk mencurigai Erielle atau bahkan mengetahui identitas asli Erielle sebagai seorang penyihir, karena saya juga akan melakukan hal yang sama. Tolong beritahu saya jika kalian keberatan dengan hal ini.
DM akan selalu terbuka untuk siapa saja, entah itu untuk mendiskusikan plot, memberikan kritik dan saran, mengajukan relasi, atau bahkan untuk sekedar mengobrol biasa.

| Biodata | |
|---|---|
| Nama | Aria Ladnier |
| Nama Asli | |
| Ras | |
| Tanggal Lahir | 31 Desember |
| Tempat Tinggal | Zürich, Swiss |
| Tinggi Badan | 165 cm |
| Umur | |
| Pekerjaan | Novelis |
| Suka | Hewan, Makanan manis |
| Benci | Manusia |
| Nama yang pernah digunakan | Ophelia, Luna, Elia Wynn |
KEPRIBADIANErielle—atau yang saat ini sedang menjadi Aria Ladnier—adalah seorang wanita muda yang elegan, baik dari perkataannya maupun tindakannya. Ia adalah seseorang yang tenang, tak pernah menaikkan suara nadanya dan tidak suka menciptakan konflik dengan orang lain. Orang-orang di sekitarnya berkata bahwa Aria adalah orang yang sangat baik dan sering membantu mereka. Mereka sangat mengagumi pengetahuan Aria yang begitu luas juga kebaikan hatinya yang begitu dalam.Tapi, itu semua hanyalah sebuah kepribadian yang Aria bentuk sendiri, sebuah topeng yang ia gunakan untuk menghadapi para manusia. Ia tahu manusia itu gampang tertipu oleh kebaikan, jadi ia memainkan perannya sebagai seseorang selalu menawarkan bantuan tanpa imbalan, selalu memberikan sesuatu tanpa berharap balasan yang sama, selalu tersenyum dengan begitu manis yang bahkan mampu menggoyahkan hati mereka yang keras.Kenyataannya, sifatnya sangat berbanding terbalik. Aria adalah seorang penyihir yang keji, yang memiliki dendam begitu dalam pada manusia. Ia sangat membenci semua manusia, tanpa terkecuali. Jika mengobrol dengan mereka, mendengarkan cerita mereka, rasanya ia ingin muntah saat itu juga.Tidak ada lagi ruang di dalam hatinya untuk menerima mereka lagi. Aria telah membuang rasa kemanusiaannya sejak lama. Tidak ada gunanya terus mengasihi mereka, pikirnya. Para manusia itu hanyalah makhluk egois yang selalu bertindak sesukanya. Namun Aria yang sekarang juga seperti itu, meskipun ia merasa jijik untuk mengakuinya. Ia adalah seorang penyihir egois yang hanya mementingkan balas dendamnya. Asalkan balas dendamnya terbalaskan, ia rela melakukan apapun.

Bagian I: Penyihir dan ManusiaBerabad-abad lalu, ketika sihir masih merajalela di dunia ini, ketika bulan dan bintang masih disembah, penyihir hidup berdampingan dengan manusia. Meskipun wilayah mereka terpisah oleh hutan dan sungai, tapi tak pernah ada konflik yang terjadi, tak pernah ada kebencian yang meracuni udara. Kedua ras tersebut justru saling membantu satu sama lain, saling bergotong royong seolah sebuah perbedaan ras bukanlah penghalang untuk mereka membangun tali persaudaraan.Erielle, adalah salah satu penyihir tersebut. Ia sangat menyukai sihir. Menurutnya, sihir itu luar biasa karena bisa melakukan apapun hanya dengan membayangkannya saja. Dan yang paling penting, sihir bisa ia gunakan untuk melindungi semua yang ia cintai. Karena itulah, ia selalu giat berlatih dari siang hingga malam, tanpa lelah dan tanpa pernah mengeluh, untuk menjadi seorang penyihir yang hebat.Erielle hidup bersama dengan ayah, ibu, serta seorang kakak kembar bernama Rielle. Meskipun dibilang 'kakak', kenyataannya kelahiran mereka hanya berbeda lima menit saja. Rielle dan Erielle, keduanya selalu bersama kemanapun mereka pergi, bagaikan sepasang sayap, ketika yang satu terbang maka yang lain akan mengikuti. Mereka saling melengkapi satu sama lain dalam sebuah harmoni yang sempurna.Selain sihir, Erielle juga menyukai manusia. Menurutnya, manusia itu susah untuk ditebak dan hal itulah yang membuat mereka terlihat menarik. Terkadang, Rielle dan Erielle dan ke pusat kota dan berbaur dengan manusia, terutama ketika ada festival. Mereka makan daging bersama, bernyanyi sebuah lagu yang ceria, berdansa di bawah langit berbintang, dan tertawa bersama sampai pipi mereka terasa sakit."Manusia itu benar-benar luar biasa ya, Eri. Aku harap kita akan terus hidup seperti ini selamanya." Ucap Rielle, sang kakak, sambil tersenyum."Aku juga mengharapkan hal yang sama." Dan Erielle juga membalasnya dengan sebuah senyuman.Lihat, kan? Jika semua orang saling menghargai, tidak ada yang namanya konflik. Kehidupan akan selalu damai dan tentram.Dan untuk beberapa waktu, semuanya memang seperti itu.Tapi, sebuah kedamaian, semua hal yang begitu indah itu sangat rapuh dan sebuah kisah yang seperti itu tidak selalu berakhir sesuai dengan yang kita inginkan.

Bagian II: TragediDi suatu pagi yang damai, ketika mentari pagi memeluk bumi, terjadi keributan di pusat kota. Seorang mayat manusia tiba-tiba ditemukan dengan keadaan tanpa kepala di tepi sungai. Setelah diusut, diketahui bahwa korban tersebut adalah anak dari walikota yang sedang menjabat. Lalu, penyelidikan untuk menemukan sang pembunuh pun dilakukan, tetapi tak ada hasil yang memuaskan.Siapa yang tega melakukan hal keji seperti itu?
Bagaimana mereka melakukannya?
Jika tujuannya untuk uang, seharusnya yang diambil adalah organ dan bukan kepala?
Siapa yang membutuhkan kepala manusia?
Untuk apa?Berbagai pertanyaan yang menumpuk, frustasi karena tidak mendapatkan jawaban, hanya ada satu jalan. Yaitu, menambahkan si kambing hitam.Tentu saja akan masuk akal jika pelakunya bukan manusia, pikir mereka.Para penyihir yang sedang terlelap, sedang bermain dalam mimpi mereka tidak pernah menyadari bahwa mereka akan ditusuk dari belakang dengan begitu brutal.Erielle yang saat itu sedang tertidur lelap, berselimutkan cahaya bulan dan bintang, tiba-tiba terbangun karena mendengar sebuah ledakan. Sangat keras, seolah dekat dengan rumahnya."Eri!"Sang ibu yang berlari ke kamar, langsung menarik tangan Erielle tanpa penjelasan apapun. Namun, Erielle dapat menebak-nebak yang terjadi melalui raut wajah ibunya. Panik, takut, gelisah, semua itu terbaca jelas olehnya.Sesuatu sedang terjadi. Dan itu sangat buruk.Erielle ingin bertanya tentang keberadaan kakaknya, tapi ia urungkan ketika sang ibu membawanya ke sebuah rumah, jauh di dalam hutan. Di dalamnya, ada sang kakak, Rielle, juga beberapa penyihir muda lainnya. Erielle masih tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia menurut saja ketika menyuruhnya untuk tetap di dalam rumah tersebut.Suara ledakan, tebasan pedang, rapalan mantra, jeritan kesakitan menjadi satu, menjadi sebuah lagu pengantar tidur bagi para penyihir muda yang sedang bersembunyi. Tapi, mata mereka tak bisa terpejam dan mereka dipaksa untuk mendengarkan suara-suara tersebut. Suara-suara itu lebih cocok disebut sebagai lagu kematian daripada lagu pengantar tidur. Mereka menelan ludah, mencoba untuk menahan air mata mereka agar tidak jatuh, tapi beberapa ada yang tak mampu menahannya, lalu terisak. Dalam hati, mereka berdoa, meminta perlindungan pada bulan, bintang, matahari, bahkan pada tumbuhan dan hewan untuk melindungi mereka dan para penyihir yang berada di luar sana, keluarga yang mereka sayangi.Rielle menggenggam erat tangan sang adik, "Eri, semuanya akan baik-baik saja, kan?" Ia berbisik, suaranya terdengar tenang, namun tangan Rielle sedang gemetaran saat ini.Rielle sedang ketakutan, sama seperti dirinya."Ya, semuanya pasti akan baik-baik saja. Ayah dan ibu adalah penyihir yang kuat, kamu tahu sendiri soal hal itu." Setidaknya, Erielle berharap seperti itu.Namun, ia tak bisa menghilangkan kekhawatiran di dalam hatinya sepanjang malam.Hingga pagi hari telah tiba, mentari kembali menyapa bumi, menyinari tanah tanpa lelah. Ketika Erielle, Rielle, dan para penyihir muda lainnya kembali ke desa mereka, semuanya telah tiada. Tak ada seorang pun, hanya ada sisa-sisa reruntuhan rumah yang habis terbakar. Erielle dan Rielle hanya bisa memandangi rumah kecil mereka yang sekarang sudah hancur.Semuanya sudah hancur. Tidak hanya rumah, tapi semua kenangan tentang tempat ini juga ikut hancur.'Mengapa?'Hanya pertanyaan itulah yang ada di benak Erielle. Memang benar, manusia itu memang susah untuk ditebak."Mereka semua pasti berhasil kabur, dan sedang bersembunyi sekarang." Rielle mengambil sebuah topi kerucut yang sering dipakai oleh ibu mereka. Ia lalu menghampiri sang adik, tersenyum. "Mari kita cari mereka."Mungkin karena mereka kembar, mereka berbagi perasaan yang sama. Erielle tahu bahwa kata-kata tersebut hanyalah omong kosong, namun..."Kamu benar. Kita harus mencari mereka."Erielle tak bisa menghentikan hatinya untuk terus berharap. Berharap jika ayah, ibu, beserta seluruh penduduk desa melarikan diri dan menunggu kedatangan mereka.Benar, ia tidak boleh berhenti berharap. Erielle terus mengatakan kalimat tersebut di dalam hatinya.

Bagian III: Penyihir, Si PenjahatPenyihir yang tersisa kurang dari dua puluh, termasuk Erielle dan Rielle. Mereka pergi dari satu wilayah ke wilayah lainnya bersama-sama. Mereka tak pernah tinggal di satu tempat untuk waktu yang lama, karena takut penyamaran mereka akan terungkap.Rumor tentang perburuan penyihir sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Brosur tentang larangan penyihir untuk datang dipasang di mana-mana, toko-toko tutup lebih awal karena takut menjadi korban, festival semakin jarang diadakan karena dipercaya akan mengundang penyihir datang untuk menculik mereka, dan buku-buku dongeng mulai menceritakan penyihir sebagai karakter penjahat.Erielle menutup sebuah buku dongeng yang baru saja dibelinya. Seorang penyihir digambarkan sebagai karakter jahat dan sering mengincar anak kecil dan wanita untuk dijadikan makanan. Katanya, untuk membuat penyihir awet muda.Bohong.
Semuanya adalah bohong.Penyihir memakan makanan yang sama dengan manusia, mereka juga bisa menangis dan berdarah seperti manusia, yang membedakan hanyalah umur yang lebih panjang juga mana yang mengalir di tubuh mereka.Semenjak pergi dari desa, para penyihir yang tersisa selalu berbagi tugas. Untuk hari ini, Erielle dan Rielle mendapatkan tugas untuk membeli makanan dengan menyusup ke sebuah kota kecil."Mengapa kamu membeli buku tersebut?" Rielle datang dengan membawa buah-buahan yang baru saja ia beli."Hanya penasaran." Jawab Erielle, lalu menutup buku dongeng yang telah dibacanya dan menghampiri Rielle.Mereka berdua mulai berjalan berdampingan, untuk kembali ke rumah yang mereka buat, tempat tinggal untuk sementara waktu. Sepanjang jalan, banyak yang membicarakan tentang penyihir. Beberapa mengatakan bahwa mereka memang menduga penyihir itu tidak sebaik yang mereka lihat. Beberapa lagi mengatakan bahwa mereka masih tidak mempercayai kabar tersebut.Erielle hanya bisa diam. Ia tak bisa membalas mereka atau pun membela diri, untuk menghindari konflik yang berkelanjutan."Eri, lihat!" Tepukan di bahu Erielle membuat kembali sadar.Rielle menunjuk suatu tempat yang tak jauh dari mereka berdiri. Sebuah festival kuliner."Ayo kita beli beberapa untuk dibawa pulang? Kita bisa belikan untuk yang lainnya juga!"Erielle sempat ragu, namun aroma makanan yang menusuk hidungnya berhasil menggodanya. Ia pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti Rielle. Festival kuliner biasanya menyediakan berbagai macam makanan dari seluruh penjuru negeri. Pasti akan ada beberapa makanan yang belum pernah ia coba, dan Erielle tidak sabar untuk memakan makanan tersebut.Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal lebih lama.Dan itu adalah kesalahan mereka.Namun, Erielle menyesalinya. Ia seharusnya mempercayai firasatnya untuk langsung pulang daripada mengunjungi festival tersebut.Rumah yang mereka bangun sementara, kini terbakar tanpa sisa. Erielle tidak ingin mempercayainya, tapi banyak bukti yang menunjukkan bahwa semua penghuninya, yaitu para penyihir muda yang pergi bersamanya, telah tewas karena diikat di dalam rumah lalu dibakar.Semuanya telah menjadi abu. Semuanya.Erielle diam membeku, lehernya terasa tercekik hingga ia kesusahan untuk bernapas. Di sampingnya, ada Rielle yang jatuh terduduk dan menangis tanpa henti. Rielle menyalahkan dirinya, keputusannya lah yang membuat ia dan Erielle telat pulang hingga hal seperti ini terjadi."Ini salahku. Jika saja kita tidak ke festival itu, jika saja aku tidak—"Tapi tak ada yang dapat mengubah apa yang sudah terjadi. Bahkan, sihir terhebat pun tidak dapat mengembalikan nyawa yang telah berubah menjadi abu.Untuk kedua kalinya, Erielle kehilangan keluarganya.

Bagian IV: Sayap yang patahTW // Gore, Kekerasan, Pembunuhan, Penyiksaan.Bahkan ketika ia dan kembarannya sedang diburu, Erielle masih tidak mengetahui apa kesalahan kaumnya hingga dihabisi. Tidak, tidak ada kesalahan apapun, yang ada hanya sebuah fitnah hingga menyebabkan seluruh dunia memusuhi mereka. Erielle yang dulunya begitu menyukai manusia, kini mempertanyakan hal tersebut. Hatinya mulai goyah.'Apakah manusia memang layak untuk dicintai?'Sejak kecil, ibunya selalu memperingatkannya untuk berbuat baik pada semua makhluk, termasuk manusia. Tapi, sekarang ibunya telah tiada, apakah hal tersebut masih berlaku?"Ah!"Kaki Rielle tersandung, menyebabkan ia terjatuh."Rie!" Erielle panik, sementara orang-orang yang memburunya semakin mendekat. "Apakah kamu masih bisa berjalan?""Sepertinya masih bisa." Jawab Rielle. Tapi kedua matanya terus melihat ke belakang mereka. Para pemburu itu terus mendekat. "Eri, sepertinya kamu harus melakukan perjalanan ini sendiri. Pergilah ke menara sihir dan laporkan semua yang terjadi."Rielle berdiri dengan tertatih-tatih."Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu. Ayo kita pergi bersama, Rie."Air mata sudah jatuh dari kedua mata Erielle. Ia tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarganya."Kamu tidak meninggalkanku. Aku hanya akan menahan mereka sebentar dan menyusulmu." Rielle menoleh, lalu tersenyum pada Erielle. Senyum yang begitu cantik. "Kamu percaya padaku kan, Eri?"Bagaimana mungkin ia menolaknya jika Rielle sudah tersenyum seperti ini?Setelah menguatkan hati dan juga tekadnya, Erielle bangkit berdiri lalu mengangguk."Berjanjilah. Kamu harus segera menyusulku begitu urusanmu selesai." Ia mengulurkan jari kelingking.Janji kelingking. Janji yang selalu mereka lakukan sejak kecil. Mereka berdua percaya, jika melakukan janji kelingking, sebuah janji kecil pun terasa begitu berharga dan terasa harus ditepati."Aku berjanji."Sebuah janji pun telah dibuat.Erielle segera berlari, masuk lebih dalam ke hutan. Namun, rasanya ada yang tidak beres. Terakhir kali ia pergi, keluarga juga teman-temannya dibantai. Ia menggeleng, mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa Rielle pasti akan bisa menyusulnya."Tidak..."Langkahnya terhenti. Bayang-bayang tentang desanya yang hancur dan teman-temannya yang mati terus menghantuinya.Ia tidak ingin kehilangan Rielle juga.Erielle segera berbalik, ia berlari secepat yang ia bisa, kembali menuju tempat Rielle berada. Untuk pertama kalinya, Erielle mengingkari janji mereka."Rie!"Namun—Jantungnya seakan berhenti berdetak, seluruh tubuhnya gemetaran, dan pandangannya buram karena air mata yang menumpuk. Rielle berada tak jauh dari tempatnya berdiri, tengah disiksa oleh para manusia gila itu. Ia diikat, ditendang, tubuhnya dipenuhi banyak luka dan lebam. Tapi para manusia itu malah tertawa merendahkannya, seolah mereka tengah berpesta.Ketika mata Erielle bertemu dengan milik Rielle, Rielle nampak terkejut melihatnya kembali. Rielle mengucapkan sesuatu, tanpa suara, tapi Erielle dapat memahami kalimat tersebut.Tapi, saat itu juga, sebuah pedang menusuk dada kiri Rielle tepat ke jantung, membuat bibirnya mengeluarkan darah. Erielle berteriak histeris. Melihat saudarinya ditusuk langsung di depan matanya membuatnya mengingat kembali tentang kenangan buruk tentang desanya, orangtuanya, serta teman-temannya yang telah tiada.Tidak. Ia tidak bisa kehilangan Rielle juga. Rielle adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa saat ini. Erielle berusaha untuk bangkit. Jika membunuh para manusia menjijikkan dapat menyelamatkan Rielle, maka ia akan melakukannya."Kumohon, hentikan!" Ia menangis, suaranya terdengar putus asa.Sebuah benih kebencian tertanam di dalam hatinya.Dan ketika ia berlari untuk menyelamatkan Rielle,Sebuah kapak dijatuhkan tepat ke leher Rielle.Lagi.Dan lagi.Bahkan ketika Rielle sudah tidak bernapas pun mereka tetap melakukannya, hingga kepala Rielle terpisah dari badannya.Seluruh tubuh Erielle melemas dan ia pun jatuh terduduk. Air mata terus keluar, namun tak ada isakan yang keluar dari mulut Erielle. Rielle adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa, namun ia bahkan tak dapat menyelamatkannya meskipun jaraknya dan Rielle sangat dekat.Untuk apa selama ini ia belajar sihir?
Untuk apa selama ini ia mengejar mimpinya menjadi penyihir hebat jika ia tidak bisa menyelamatkan siapapun?Orang-orang tadi menghampirinya ketika mereka menyadari kehadiran Erielle. Erielle tak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan, namun ia menebak bahwa mereka akan melakukan hal yang sama padanya seperti yang mereka lakukan pada Rielle. Maka, biarlah itu terjadi. Ia sendiri pun sudah tidak sanggup untuk berjalan lagi. Erielle pun memejamkan matanya, membayangkan Rielle yang tersenyum membuatnya bisa sedikit tenang.Ada sebuah legenda yang terkenal di desanya:
Dikatakan bahwa jika salah satu saudara kembar mati secara tidak adil, maka yang selamat akan mewarisi kekuatan yang mati. Ketika kedua kekuatan tersebut digabung, akan membentuk sebuah kekuatan baru yang lebih hebat dan destruktif. Mereka menamainya dengan "Kutukan Takdir".Jantung Erielle tiba-tiba berdegup kencang. Seluruh tubuhnya terasa panas seolah-olah ia sedang berendam di dalam air yang mendidih. Aliran mana di dalam tubuhnya melonjak, ia merasakan sebuah kekuatan tidak masuk akal masuk ke dalam tubuhnya.Erielle bisa merasakan kekuatannya bertambah kuat berkali-kali lipat, ia bahkan bisa dengan mudah menghempas manusia-manusia yang tadi mengelilinginya. Kedua matanya dipenuhi oleh dendam dan dengan satu mantra, api biru membakar habis manusia-manusia tersebut tanpa sisa, tanpa membiarkan satu orang pun kabur.Setelahnya, ia menghampiri tubuh dingin milik Rielle, memeluk kepala Rielle, lalu menangis sejadi-jadinya. Sebuah tangisan yang terdengar memilukan, hingga membuat seluruh binatang di hutan pun terdiam, ikut merasa iba.Sebuah tangisan seorang penyihir yang kehilangan segalanya. Sebuah adegan yang tidak akan pernah ditemukan dalam buku dongeng mana pun.

Bagian V: Sebuah Kebenaran yang Terlambat Terungkap'Mengapa kamu kembali?'Adalah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Rielle, tanpa suara, namun Erielle masih dapat memahaminya.Ia saat ini tengah berdiri di depan kuburan Rielle yang ia gali sendiri dengan tangannya yang gemetar. Tak ada batu nisan, yang ada hanya sepucuk bunga lily putih yang indah—bunga kesukaan Rielle.Ya, pada akhirnya Erielle lebih memilih untuk mengubur Rielle daripada membakarnya. Menguburnya di sebuah hutan yang ia yakini jarang dilewati oleh manusia."Rie, sebenarnya kamu masih mempercayai mereka, kan?"Erielle adalah orang yang paling tahu kekuatan milik kembarannya. Untuk Rielle, menghabisi manusia-manusia yang menyerang mereka semalam adalah hal yang mudah. Tapi, Rielle malah menyarankan mereka untuk berlari dan pada akhirnya ia mengorbankan dirinya sendiri.Erielle merasa Rielle hanya bertahan, tanpa berniat untuk menyerang. Ia melakukannya bukan untuk bunuh diri, melainkan membiarkan Erielle kabur dengan aman dan setelah itu ia akan menyusul sesuai dengan janji mereka. Rielle sepertinya masih tidak tega untuk menyakiti manusia. Tapi, karena rasa kasihnya itu, ia berakhir dibunuh oleh mereka.Mungkin, penilaian mereka terhadap manusia itu salah. Atau mungkin, mereka memang tidak seharusnya mempercayai dan hidup berdampingan dengan manusia."Rie, aku sudah memutuskannya. Aku tidak akan pergi ke menara sihir. Aku akan membaur dengan manusia dan melakukan balas dendam."Erielle yakin meskipun ia menceritakan semuanya pada para penyihir di menara sihir, mereka tidak akan melakukan apa-apa. Karena mereka tidak ingin memulai konflik dengan manusia. Solusi yang diberikan mereka pasti meminta Erielle untuk bekerja di menara sihir.Tapi, bagi Erielle yang telah kehilangan segalanya, satu-satunya alasan ia tetap hidup adalah untuk balas dendam.Ia lalu memakai tudung jubah abu-abunya, "Rie, beristirahatlah dengan tenang bersama ayah, ibu, juga yang lainnya. Tidak perlu khawatir, aku akan menanggung semua dosa ini sendirian."Seekor kupu-kupu biru tiba-tiba menghampirinya. Ia tidak tahu mengapa dan berasal dari mana kupu-kupu ini, tapi ia merasa bahwa kupu-kupu tersebut adalah Rielle yang sedang mengucapkan salam perpisahan padanya.Erielle menangis lagi, namun ia segera menghapus air matanya dan pergi dari hutan tersebut.Bersamaan dengan itu, kupu-kupu biru itu mengepakkan sayapnya terakhir kali sebelum akhirnya jatuh tepat ke makam Rielle.Setelah mewarisi kekuatan Rielle, ia bisa merasakan mana dan kekuatannya berkali-kali lipat lebih besar. Berkat hal itu, Erielle bisa melakukan hal dulunya tidak bisa ia lakukan. Salah satu contohnya adalah teleportasi. Dulu, Erielle harus menggunakan gerbang teleportasi dan harus berteleportasi ke tempat yang memiliki gerbang teleportasi juga. Sekarang, ia hanya perlu membayangkannya dan satu detik kemudian, ia akan berpindah ke tempat yang dibayangkannya tersebut.Seperti yang dilakukannya sekarang. Ia berteleportasi ke kota yang dulu pernah menjadi rumahnya, ke tempat di mana semuanya berawal. Tujuannya adalah untuk mencari tahu siapa dalang dibalik pembunuhan yang terjadi beberapa bulan yang lalu, juga untuk melakukan balas dendam pada mereka yang telah membunuh keluarganya.Tidak banyak yang berubah. Brosur tentang perburuan penyihir masih ada, sekarang ditambah dengan imbalan jika berhasil mendapatkan kepala seorang penyihir. Namun, yang menarik perhatian Erielle ada sebuah percakapan antara seorang pria dan wanita."Eh? Perburuan penyihir masih dilakukan? Bukankah pembunuh yang asli sudah ketahuan?" Ucap si wanita."Sstt, diam! Jika penjaga kota mendengarmu, mereka akan langsung menganggap kau penyihir dan langsung menghabisimu saat ini juga." Jawab si pria."Tapi, bukankah rasanya tidak adil? Ditambah lagi, mereka dulu sering membantuku."Pria itu mengangkat bahunya cuek. "Siapa yang peduli pada hal tersebut? Semua orang hanya ingin bertahan hidup."Tangan Erielle terkepal erat di kedua sisi. Ia ingin membunuh kedua orang itu saat ini juga, namun ia menahannya. Karena yang terpenting saat ini adalah mencari keberadaan si pembunuh asli.Setelah mencari informasi ke sana dan kemari, Erielle akhirnya sampai di depan rumah yang ia yakini sebagai rumah si pembunuh. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung masuk ke dalam, menggunakan sihirnya untuk membuka kunci pintu tersebut.Ia tahu pemiliknya ada di dalam, jadi ia segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Dan benar saja, seseorang sedang meringkuk ketakutan di dalam kamar tersebut."Si-siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk ke dalam rumahku?"Tak ada rasa iba di dalam hatinya. Sepertinya balas dendam telah membakar semua perasaan Erielle yang dulu."Menurutmu bagaimana cara aku membuka pintunya?" Ia mendekat, sebuah api kecil menari di tangannya. "Aku adalah penyihir.""Pe-penyihir?"Orang itu semakin gemetaran ketika jaraknya dan Erielle hanya tersisa sedikit. Berusaha menjauh, namun dibelakangnya hanya ada tembok sehingga ia tidak bisa kabur."Mengapa? Mengapa kamu tidak muncul dari awal? Jika saja kau mengaku, mereka semua tidak akan dibantai."Jika saja kebenaran terungkap lebih awal, Erielle tidak perlu kehilangan desanya, teman-temannya, keluarganya, juga Rielle yang sangat ia cintai."A-aku minta maaf, aku sungguh menyesal. Aku tidak berpikir bahwa mereka akan menargetkan penyihir. Aku dan anak walikota itu terlibat pertengkaran dan berakhir dengan seperti itu." Orang itu berlutut, menjelaskan kebenarannya sambil memohon ampun.Namun, Erielle tak bisa menerimanya. Hatinya telah membeku.Ia berbalik, menjauhi pria tersebut yang sedang bernapas lega, berpikir bahwa Erielle memaafkannya. Namun, detik berikutnya, api berwarna biru mulai membakar pria tersebut. Teriakan minta tolong terdengar, namun Erielle tak menggubrisnya. Ia pergi selagi api miliknya membakar pria itu beserta rumah yang ia tempati.Sebuah api yang tidak akan padam bahkan jika disiram oleh air. Sebuah api yang akan melahap habis apapun yang ada di dalamnya tanpa sisa.Sebuah api balas dendam dari seorang penyihir yang sakit hati karena pengkhianatan dan ketidakadilan yang ditujukan padanya, pada keluarganya, juga pada kaumnya.

Bagian VII: Balas DendamErielle tidak tahu sudah berapa banyak manusia yang telah ia bunuh. Ia tak pernah menghitungnya, karena menurutnya hal itu tidak ada gunanya. Dulu, ia memulai balas dendamnya dengan membakar kota dan seluruh penduduknya, sebuah kota yang pernah membakar habis desanya. Ia pernah menjadi seorang pembunuh berantai yang menghabisi siapapun tanpa ampun, tanpa peduli siapa korbannya. Ia pernah mendirikan sebuah sirkus hanya untuk memberikan mereka pertunjukan lalu membakar mereka tanpa sisa. Ia pernah menyelipkan racun pada banyak pesta, menyebabkan kematian yang tak terhitung jumlahnya.Erielle telah hidup lama sekali, ia telah melewati berbagai zaman, ia telah menyaksikan para raja dan ratu yang dihukum mati, ia telah menyaksikan berbagai perang yang menewaskan banyak korban.Erielle telah melewati pergantian musim beribu-ribu kali, telah bertemu dengan berbagai macam manusia, namun rasa ingin balas dendam tak pernah pudar darinya. Meskipun ia bertemu beberapa manusia yang baik, tapi tidak ada lagi rasa kasih yang tersisa di dalam hatinya.Sekarang, ia hanyalah seorang penyihir yang ingin menghancurkan umat manusia tanpa sisa. Seorang penyihir yang mirip seperti di buku-buku dongeng anak-anak, seorang penjahat.Selama manusia terus ada, balas dendamnya akan terus menyala. Sampai tidak ada lagi satu pun manusia yang hidup di dunia ini, barulah ia bisa beristirahat dengan tenang.Erielle tak pernah menetap di satu tempat yang sama untuk waktu yang lama, ia juga selalu mengganti identitas serta pekerjaannya. Dan di zaman ini, pekerjaannya adalah penulis novel. Kebanyakan novel yang ditulisnya adalah romansa ringan yang disukai oleh para gadis remaja, yang lainnya adalah novel misterius dan penuh teka-teki yang disukai masyarakat umum.Elia Wynn, adalah sebuah nama pena yang ia pilih untuk menyembunyikan identitas aslinya. Novelis Elia tak pernah menunjukkan wajah juga tak pernah mengadakan event tatap muka bersama penggemar, namun novel-novel buatannya selalu menarik banyak orang dan selalu menjadi best seller.Tentu saja ada sebuah rahasia dibaliknya, sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh Erielle seorang.Semua novelnya selalu ia selipkan mantra yang memberikan efek: Pertama, untuk menarik minat orang-orang yang melihatnya hingga tidak tahan untuk membelinya. Kedua, yang akan melemahkan fisik manusia tiap kali mereka menyentuh lembaran novelnya. Jika terus-terusan menyentuhnya, fisik mereka akan semakin melemah hingga tidak sanggup untuk berdiri, tidak sanggup untuk menggerakkan kaki dan tangan, hingga tidak sanggup untuk bernapas. Dan kemudian kematian akan datang tanpa diminta.Jika Erielle pikir lagi, metode ini adalah metode paling 'tenang' darinya yang ia hadiahkan pada para manusia.Erielle menyeruput tehnya dengan tenang di dalam kamarnya yang nyaman, lalu memandang keluar jendela yang menampilkan keramaian jalanan. "Cerita macam apa lagi yang sebaiknya aku tuliskan?" Suaranya begitu lembut, bagai angin sejuk yang datang ketika musim panas.